Sunday, April 21, 2013
Kekayaan Pandangan Spiritual
Entah akan berapa kali kata-kata "Pandangan Spiritual" akan muncul dalam blog ini, tapi terus terang saya sangat menyukai kata-kata tersebut, there're not enought words to describe how i exited...hehah aappeheh...(ntah apa maksudnya)
Pada tulisan kali ini saya akan mengangkat sebuah pandangan saya tentang cara berpikir seorang pedagang kaki lima, (pedagang kaki lima yang kayak dorong gerobak, termasuk gak sih?) ya, gambarannya seperti itu, saya punya lingkungan baru dimana saya sekarang kerja sebagai desainer grafis dan web admin, dan seperti halnya dalam gambaran di kepala para pembaca, tentu akan membutuhkan waktu untuk bisa bersosialisasi dengan teman, tetangga, tetangga teman, dan termasuk juga tempat jajanan. seperti biasa, saya menjelajahi hampir selingkar tempat kerja, saya cenderung mencoba setiap makanan disini, kecuali yang berbahan daging selain ikan, saya gak minat, dan saya vegetarian kecuali ikan...hehehe, ntah untuk kesekian kali akhirnya aku menyadari bahwa ternyata saya sudah punya langganan, yang biasanya saya jajan untuk makan siang. yakni... gado dua kali, alias gado strip gado, atau gado angka dua, yang intinya adalah gado-gado. tau gado-gadokan? salah satu makanan khas indonesia yang mencampurkan bebrapa bumbu dan sayuran, walaupun kata dan makna gado-gado memiliki konotasi yang yang masih blur dan kabur, seperti misalnya, sikap untuk mnunjukkan sebuah ketidakaturan bisa bentuk benda atau sifat, yang sebenarnya penggunaan idiom ini saya pikir perlu di kaji ulang. sebab, jika kita menggunakan logika, sebuah kata gado-gado yang digunakan selama ini biasanya untuk memberi sebuah penilaian dengan "kategori" rendah, adalah sebaliknya jika kita bisa melihat dari sudut pandang logika. pertama, gado-gado rasanya enak, nah berarti jika ada seorang memandang den mengeluarkan kata "gado-gado" terhadap sifat yang ada dalam dirimu, itu bearti sebenarnya itu enak!. kedua jika kita lihat dari bahannya, semuanya pilihan, sebab belum pernah saya makan gado-gado berikut ulat atau cacing yang masih menempel, dan selanjutnya komposisi dan kolaborasi yang menyuguhkan persatuan adalah sikap terpuji serta sosialis sejati. terpujilah gado-gado!!!...hahahaha. nah, kembali fokus ke permasalahan dari judul tulisan ini (jadi udeh sepanjang kali angke tulisan ini belum fokus juga) gkgkgkgk....
Saya terpesona dengan tukang gado-gado, (tenang ladies, dia itu bapak-bapak ubanan) LAAAHH, kok bisa terpesona? ya bisa dong, mang pikiran kita sama? arti terpesona yang saya pikirkan apa sama dengan ente? kagakkk masbro. Saya terpesona cuma karena dia memberikan kembalian dari sisa ung buat bayar gado-gadonya, harga gado-gadonya delapan rebu, trus uang saya sepuluh rebu, jadi dikembaliin dua rebu. LAHHH, apa spesialnya????? ADAAAA.... tenang aja masbro, kita kembali fokus ke inti permaslahan. Dia mengembalikan dengan uang yang masih baru! LAHHHH, itukan biasa aja kaleee!!! KAGAKKKK... soalnya tiap kali aku belanja disana selalu dapat uang yang masih baru (tidak lecek), mungkin aja dia nyimpen semua uang baru! KAGAAAAKKKK.... soalnya saya lihat sendiri segepok uang yang dia keluarkan dari kantongnya, sebgaian sudah lusuh bangettt!!, lalu kenapa begitu? YA, tiu yang buat saya terpesona, karena 99% dari keseluruhan hidup saya dalam berbelanja, saya menemukan bahwa semua penjual selaulu cenderung mengembalikan uang yang tampilan lebih jelek unutk dikembalikan ke pelanggan, saya yakin juga demikian yang ditemukan oleh para pembaca di lingkungan masing-masing. Artinya, bahwa hal ini jarang terjadi, karena jika saya analisa dari pola pemikiran dari bapkak penjual gado-gado ini, adalah penempatan dua posisi berbeda, atau ada sebuah lakon dramaturgi kehidupan, saya yakin dia menggunakan uangnya untuk ekperluan sehari-hari, misalkan berbelanja kepasar, tentu ini lingkungan yang berbeda ketika dia menjadi penjual dan menjajakan dagangannya, sebab dia tak membutuhkan faktor-X dalam membeli bahan dagangan, tapi sebaliknya dia sangat memerlukan faktor-X tersebut dalam berjualan, nah, seandainya semua penjual seperti bapak tersebut. Akan sangat besar artinya tanggal 20 April sebagai hari konsumen sedunia. lalu apa Faktor-X ini? baiklah, yang saya maksudkan dengan faktor-X ini merupakan kekayaan spiritual. Dimana?, dihati!.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment
leave a word based on your good mood :D