Friday, April 19, 2013
Duka Dari Alam
Saya tak bermaksud berpuisi dengan judul artikel di atas, tetapi itulah yang terpikirkan oleh otak jenius ku ini (jenius kok yang terpikirkan cuma itu doang...hahahaha) baiklah, pagi ini saya memandang ke sisi jalan yang dilewati oleh mobil angkutan yang saya tumpangi, tak jelas jika saya deskripsikan alasan saya memandang bagian dari kubangan yang menjadi tumpahan hujan semalam alias sisa-sisa banjir tak jadi. ada sepotong dahan dengan beberapa cabang yang sepertinya dipotong oleh manusia, dan dibuang atau ditinggalkan di sisi jalan. sebenarnya, itu adalah hal yang biasa bukan?? ya memang terdengar biasa, bagi yang memandang melalui celah sempit hiruk pikuk kota. dahan tersebut adalah jenis tanaman bunga pagar/hiasan didepan rumah, yang memiliki kembang warna pink, yang mirip dengan bunga sakura, klo gak salah seperti ini tanamannya
(sumber google:"Kenyeri")
dahan dengan sekitar tiga cabang tergeletak di sisi trotoar yang masuk ke bagian badan jalan, bagian pangkal dahan tergenang air bercampur lumpur dalam kubangan, sementara bagian pucuk terlihat ada rona kehidupan dengan warna yang lebih hijau cerah. Tapi tak ada yang menyentuh jiwa saya sebelum saya menyadari bahwa bagian pucuk tersebut tidak berupaya menghadap keatas, seperti dahan kangkung di dalam nampan berisi air, selain itu bagian dahan yang mengarah ke bagian jalan, memberi sebuah isyarat bahwa perlindungan bagian pucuk terlihat seperti usaha alami untuk menjauhkan bagian tersebut dari lalu-lalang kenderaan. Tapi, kenyataanya tidak begitu, bagian tengah dahan melengkung hampir sepertiga lingkaran yang mengarah justru lebih dekat ke pinggir kubangan yang mengarah lebih dekat ke jalan dimana roda-rodak kenderaan tanpa jiwa merangsek dan berputar pusing menunjukkan jauhnya dari kesadaran. Apa yang tergambarkan dalam situasi ini terlihat seperti sebuah ke-putus-asaan dari tanaman tersebut, jika mungkin dia tidak berada dikubangan di dalam sisi badan jalan mungkin akan berbeda ceritanya, karena di sanan jikapun bagian pucuk mengarah keluar atau kebagian trotoar, mungkin umurnya akan lebih sedikit lama, tetapi itu sama saja, hanya menunda penderitaan yang lebih dan memperoleh udara yang lebih banyak oksigen. tetapi tanaman ini mungkin berpikir, jikapun dia berbuat demikian, toh, dia tetap berada dijalan, dan senantiasa jikapun ada kenderaan yang menghindari tempat lubang dimana dia berada adalah hanya kenderaan kecil yang meliuk dengan susah payah untuk tidak basah dan kena lumpur. akan berbeda dengan kenderaan-kenderaan besar yang menganggap kubangan dan lubang kecil tak ubahnya seperti jalan kering biasa, hidup akan selalu berahir, cepat atau lambat. iya kan? tinggal melihat resiko dalam kemungkinan, walau semua kejadian adalah takdir atas yang kuasa, tetapi pikiran kita dalam logika adalah senjata untuk berpikir tentang fenomena yang di berikan juga oleh yang kuasa. atau jangan-jangan semua takdir sebenarnya adalah hasil pikiran kita??? who knows... :D
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment
leave a word based on your good mood :D